Thursday, July 19, 2012

Perbedaan Penentuan Awal Ramadhan


3:05 PM |

Sebagian umat Islam masih bingung kapan memulai shaum tahun ini. Ada yang siap-siap untuk mulai melaksanakan ibadah shaum atau awal Ramadan 1433 H di Indonesia pada hari Sabtu (21/7/2012).
Namun sebagian umat Islam di Indonesia juga akan mulai melaksanakan ibadah shaum pada Jumat (20/7/2012). Walau berbeda, penetapan 1 Syawal dipastikan akan bersamaan, yakni jatuh pada 19 Agustus 2012.

Pemerintah sendiri berpegang pada aturan, yakni bila kurang dari 2 derajat, bilangan hari digenapkan jadi 30 hari, artinya pemerintah kemungkinan besar akan menetapkan hari pertama puasa pada 21 Juli 2012.
Sementara itu, Muhammadiyah sudah mengumumkan bahwa awal Ramadan jatuh pada Jumat, 20 Juli 2012. Namun pemerintah yang menentukannya nanti akan dengan membahas dalam sidang Isbat.
Perbedaan penetapan ini sendiri, muncul karena adanya perbedaan dalam menggunakan metode penentuan awal Ramadhan.

Muhammadiyah, mengacu pada metode hisab yang berpedoman pada QS Yunus ayat 5, sedangkan pemerintah berpegangan pada metode imkan al rukyat, yakni tinggi hilal di atas ufuk minimal dua derajat.

Awal shaum ditentukan dengan tiga perkara :
1. Ru’yah hilal (melihat bulan sabit).
2. Persaksian atau kabar tentang ru’yah hilal.
3. Menyempurnakan bilangan hari bulan Sya’ban.

Tiga hal ini diambil dari hadits-hadits dibawah ini :
1. Hadits dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HSR. Bukhari 4/106, dan Muslim 1081)

2. Hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari kecuali seseorang diantara kalian yang biasa berpuasa padanya. Dan janganlah kalian berpuasa sampai melihatnya (hilal Syawal). Jika ia (hilal) terhalang awan, maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari kemudian berbukalah (Iedul Fithri) dan satu bulan itu 29 hari.” (HR. Abu Dawud 2327, An-Nasa’I 1/302, At-Tirmidzi 1/133, Al-Hakim 1/425, dan di Shahih kan sanadnya oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi) 

3. Hadits dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Apabila datang bulan Ramadhan, amka berpuasalah 30 hari kecuali sebelum itu kalian melihat hilal.” (HR. At-Thahawi dalam Musykilul Atsar 105, Ahmad 4/377, Ath-Thabrani dalam Ak-Kabir 17/171 dan lain-lain)

4. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (ru’yah hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya.” (HR. An-Nasa’I 4/132, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, sanadnya Hasan. Demikian keterangan Syaikh Salim Al-Hilali serta Syaikh Ali Hasan. Lihat Shifatus Shaum Nabi, hal. 29)
Hadits-hadits semisal itu diantaranya dari Aisyah, Ibnu Umar, Thalhah bin Ali, Jabir bin Abdillah, Hudzaifah dan lain-lain Radliallahu ‘anhum. Syaikh Al-Albani membawakan riwayat-riwayat mereka serta takhtrij-nya dalam Irwa’ul Ghalil hadits ke 109.

Isi dan makna hadits-hadits diatas menunjukkan bahwa awal bulan puasa dan Iedul Fithri ditetapkan dengan tiga perkara diatas. Tentang persaksian atau kabar dari seseorang berdalil dengan hadits yang keempat dengan syarat pembawa berita adalah orang Islam yang adil, sebagaimana tertera dalam riwayat Ahmad dan Daraquthni. Sama saja saksinya dua atau satu sebagaimana telah dinyatakan oleh Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ketika beliau berkata :
“Manusia sedang melihat-lihat (munculnya) hilal. Aku beritahukan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa aku melihatnya. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.” (HR. Abu Dawud 2342, Ad-Darimi 2/4, Ibnu Hibban 871, Al-Hakim 1/423 dan Al-Baihaqi, sanadnya Shahih sebagaimana diterangkan oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam At-Talkhisul Kabir 2/187)

Perbedaan tentang penentuan hari awal Ramadhan itu WAJAR, seperti halnya perbedaan Mazhab dalam Islam..
tapi sebenarnya perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan itu TIDAK WAJAR, karena selama zaman Rasulullah, Khulafa ur-rasyidin, sampai ke khalifah2 yang lain.. itu tidak ada umat Islam yang BERBEDA dalam melaksanakan awal shaum di bulan Ramadhan.

Kenapa Penentuan Awal Ramadhan Bisa Berbeda-beda?

Kenapa kita, Umat Islam biasa BERBEDA seperti ini dalam menentukan awal Ramadhan? karena saat ini umat Islam tak punya seorang Khalifah Islam, pemimpin umat Islam se-dunia yang menyatukan seluruh Umat Islam di dunia, yang menyelaraskan, menyatukan Islam!!
sesungguhnya PERBEDAAN ini membuat kita "hancur" bercerai berai. mana mungkin ada Umat Islam yang shaum dengan hari yang berbeda?? sementara dalam hal ibadah umat Islam itu harus bersatu, selaras, serampak.

SELAMA ZAMAN RASUL SAMPAI RUNTUHNYA DAULAH KHILAFAH.. TAK ADA SEJARAHNYA UMAT ISLAM BERBEDA DALAM MENENTUKAN AWAL RAMADHAN..!!
"PERBEDAAN" ini terjadi semenjak Umat Islam gak punya khalifah (pemimpin negara Islam) dan semenjak "runtuhnya" DAULAH KHILAFAH (negara kepemimpinan Islam, yang menyatukan umat Islam di seluruh Dunia..) oleh Inggris dan sekutu nya!


Menurut pendapat Jumhur, kesaksian ru’yah hilal Ramadhan dapat diterima dari seorang saksi Muslim yang adil. Ketetapan itu didasarkan oleh beberapa Hadits Nabi saw. Dari Ibnu Umar ra:

تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلَالَ فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي رَأَيْتُهُ فَصَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ
Orang-orang melihat hilal, kemudian saya sampaikan Rasulullah saw, “Sesungguhnya saya melihatnya (hilal). Kemudian beliau berpuasa dan memrintahkan orang-orang untuk berpuasa (HR Abu Dawud no. 1995; al-Darimi no, 1744; dan al-Daruquthni no. 2170).

Dalam Hadits ini, Rasulullah saw berpuasa dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa berdasarkan kesaksian Ibnu Umar ra. Itu artinya, kesaksian seorang Muslim dalam ru’yah hilah dapat diterima.
Dari Ibnu Abbas bahwa:

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْهِلَالَ قَالَ أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَا بِلَالُ أَذِّنْ فِي النَّاسِ أَنْ يَصُومُوا غَدًا
Telah datang seorang Arab Badui kepada Nabi Muhammad saw kemudian berkata, "Sungguh saya telah melihat hilal.." Rasulullah bertanya, “Apakah anda bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah?” Orang tersebut menjawab, “Ya”. Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Bilal, umumkan kepada manusia (khalayak) agar mereka berpuasa besok.” (HR Imam yang lima, disahihkan oleh Khuzaimah & Ibnu Hiban).

Jika seperti itu, maka jika ada satu orang saja yang melihat hilal dan orang itu dapat di percaya maka Ramadhan telah datang! meskipun di tempat kita, kita tidak bisa melihat hilal tapi ternyata di belahan bumi lain ada seorang muslim yang melihat hilal itu artinya telah datang Ramadhan kepada kita. contohnya saja bila di Mesir atau Saudi Arabia atau dimana saja, ada Muslim yang melihat hilal berarti umat Islam yang ada di seluruh dunia termasuk di Indonesia pun (meskipun di wilayah Indonesia belum terlihat hilal) tetap saja harus shaum di keesokan harinya.

Semua perbedaan penentuan awal Ramadhan ini tidak akan terjadi, bila ada seorang Khalifah Islam yang menentukan 1 Ramadhan bagi seluruh Muslim di dunia dan tegaknya kembali Daulah Khilafah Islam di muka bumi yang menyatukan kembali seluruh Umat Islam di dunia.

Karena hanya dengan persatuanlah tidak akan ada sebuah perbedaan.
Bookmark and Share


You Might Also Like :


0 komentar:

Post a Comment